Minggu, 05 Juni 2011

Tribulasi???

Adakah tribulasi itu natijah (hasil) dari beberapa kesalahan atau sunnah dari sunnah-sunnah dakwah? Bolehkah tribulasi itu dielak atau dikurangkan tekanannya? Ataupun mengelakkannya merupakan satu penyelewengan? Adakah tribulasi itu merupakan kematian dala...m umur dakwah atau sebagai kehidupan yang mempunyai kesan? Adakah tribulasi itu sebagai pukulan yang menghapuskan dakwah atau merupakan alat pelicin, pembersih dan peneguh dakwah? Apakah dampaknya kepada jamaah dan individu? Adakah tribulasi itu membahayakan atau memberi faedah? Benarkah tribulasi itu satu kurnia dalam bentuk bencana? Inilah di antara persoalan yang senantiasa mencuat dalam pikiran sebagian manusia. Kadang-kadang, saudara tidak dapat memberi jawaban yang sahih kepada mereka. Ada orang yang menimbulkan persoalan-persoalan ini dengan tujuan jahat untuk menimbulkan keraguan-raguan dan fitnah. Mungkin juga dengan tujuan baik, tetapi dia tidak mampu memberi jawaban yang tepat lalu menimbulkan kegelisahan dan kesamaran. Oleh karena itu, kita perlu mengupas persoalan-persoalan ini untuk mencari jawaban yang sahih dan memuaskan. Untuk membuktikan kebenaran dan menghapuskan kebatilan. Kepada Allahlah kita mengharap taufik di atas jalan yang lurus. 10.1 Adakah Ujian dan Bencana Itu Hasil Dari Kesalahan Atau la Adalah Sunnah Dari Sunnah-sunnah Dakwah? Sesungguhnya para Rasul dan para pendukung dakwah yang senantiasa menyeru manusia kepada Allah mengalami gangguan, penyiksaan dan penindasan dari musuh Allah lantaran mereka berjuang melaksanakan kewajiban dakwah. Sekiranya Allah hendak menghalang dan mencegah mereka dari mengganggu, menggugat, menyakiti, menindas dan membunuh para Rasul dan para pendukung dakwah niscaya Allah sangat bisa berbuat demikian. Allah Maha Pengasih kepada mereka, tetapi Allah tidak berbuat demikian. Mereka dibiarkan terganggu kepada berbagai-bagai gangguan, penyiksaan, sehingga kita melihat junjungan kita nabi Muhammad s.a.w. yang tercinta telah diganggu dan disakiti oleh kaum musyrikin di Tha'if sehingga baginda berdoa dan bersabda: "Hai Tuhanku, kepadaMulah kuadukan kelemahanku, kekuatanku dan kurangnya upayaku dan hinanya aku kepada manusia." Adakah Allah membiarkan mereka dengan tidak melindungi mereka dari siksaan kaum kafir dan musyrik karena mereka telah membuat kesalahan? Adakah masuk akal jika dikatakan bahwa segala gangguan dan penyiksaan yang menimpa para Rasul, pendukung dakwah dan para mukmin yang bersama mereka disebabkan kesalahan di dalam perjalanan mereka menyeru kepada Allah? Sesungguhnya kita akan menyatakan sebaliknya. Keteguhan mereka mendukung dakwah dan istiqamah mereka di atas perintah Allahlah yang menyebabkan mereka mengalami gangguan dan ujian. Sekiranya mereka menyeleweng, abai atau bersantai-santai, sudah tentu mereka tidak diganggu, disiksa, ditindas. Firman Allah s.w.t.: "Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)". Al-Qalam: 9 FirmanNya lagi: "Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia ". Al-Israa': 73 Sesungguhnya musuh-musuh Allah dan para pendukung kebatilan tidak akan membiarkan dakwah Allah berjalan, membesar dan berkembang di kalangan manusia hingga ia menjadi kuat, teguh dan mampu menghapuskan mereka yang penuh dengan kesesatan dan kebatilan. Sudah pasti mereka akan melancarkan serangan ke atas dakwah Allah dan para pendukungnya dengan cara mendustakan, memperolok, menimbulkan keraguan dan menghalang manusia daripadanya. Sekiranya hujah-hujah dan logik mereka lemah, mereka akan bertindak kasar dan ganas. Mereka akan mengganggu, menyiksa, menindas dan melakukan tindakan-tindakan yang sia-sia. Mereka berbuat demikian semata-mata untuk memesongkan akidah para da'i dan menakut-nakutkan manusia lain dari memasuki Islam, dari dakwah Islam dan jihad Islam. Lebih dari itu mereka akan' melemparkan berbagai tuduhan palsu, jahat, buruk dan busuk kepada pendukung dakwah untuk membenarkan kezaliman dan pencerobohan mereka, demi mengelabui mata manusia dan merusakkan nama baik para pendukung dakwah Islam. Tambahan pula pendukung jahiliah itu mempunyai alat-alat media massa dan sistem komunikasi yang memudahkan lagi proses mengelabui mata manusia di mana, pada waktu yang sama, pendukung kebenaran dan dakwah tidak diberi peluang dan kesempatan untuk menghapuskan segala tuduhan batil dan dusta itu. Dengan kecakapan sistem komunikasi inilah timbulnya anggapan yang salah dan sangkaan buruk yang menimpa para pendukung dakwah bahwa bencana dan ujian yang mereka terima adalah natijah dan hasil dari kesalahan yang terkandung di dalam tuduhan palsu itu. Sesungguhnya berdakwah kepada Allah sepanjang masa adalah dakwah ke arah kebaikan selamat sejahtera. Dakwah tidak memaksa manusia supaya mereka memasuki agama Allah. Sesungguhnya dakwah Islam, itu bercakap dan berbicara kepada akal dan fitrah manusia, menyeru mereka dengan hikmah, nasihat, tunjuk ajar yang baik dan dengan perbincangan dan perdebatan yang lebih baik, menyeru mereka supaya beriman kepada Allah, bertauhid kepada Allah, mengesakan Allah, dan beribadat kepada Allah tanpa paksaan. Tetapi malangnya kebanyakan manusia terutamanya pihak berkuasa dari pendkung jahiliyah, penganut kebatilan mengingkari fitrah mereka, menutup akal mereka, membutakan hati dan mata mereka, memekakkan telinga lalu mereka tidak mendengar, tidak melihat dan tidak menyahut seruan Allah yang dibawa oleh pendukung dakwah tatkala menyeru mereka kepada apa yang menghidupkan mereka: "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun ". Al-Anfaal: 22 Merekalah sebenarnya yang memulakan permusuhan dan pencerobohan ke atas para duat ila Allah. Merekalah yang telah mengadakan konspirasi sulit untuk menentang dan memusuhi para du'at dan merekalah juga yang senantiasa membuat berbagai tipu daya untuk memperdaya manusia. 10.2 Bahkan Demikianlah Sunnah Allah Dalam Dakwah Sudah menjadi sunnatullah di dalam proses dakwah yang mendedahkan orang-orang mukmin dan pendakwah yang berdakwah karena Allah kepada berbagai ujian yang begitu hebat sehingga bisa menggoyahkan mereka. Sesungguhnya iman itu bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan dengan mudah, syiar-syiar yang dilaung-laung dan bukan perarakan yang diringi pekikan-pekikan yang bergemuruh. Sebaliknya, iman mestilah diuji. Pertolongan Allah tidak akan datang kepada mereka melainkan setelah mereka dapat mangatasi ujian dan dugaan itu. Inilah pesan yang terkandung jalam ayat-ayat al-Quran yang berulang kali menyebut tentang sunnah ini. “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami beriman, sedang mereka belum diuji? Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang dusta ". Ankabut: 2-3 "Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana orang-orang yang dahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orahg-orang yang beriman bersamanya. "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat". Al-Baqarah: 214 "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” Muhammad: 31 "Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka hingga datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimah-kalimah (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu". Al-An'aam: 34 "Allah sekali-kali tidak tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendakiNya di antara rasul-rasulNya, karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar". Ali lmran: 179 "Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka)". Ali lmran: 141 "Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan bagi yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ". ArRa'ad: 17 "Dan dj antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah" maka apabila ia disakiti karena ia beriman kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sesungguhnya jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah bersertamu. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada manusia ? Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang yang beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang munafik". Al-Ankabut : 10-11 Jelas di sini kita dapat melihat bahwa ujian yang menimpa para pendukung dakwah merupakan sunnah Allah yang senantiasa silih berganti di dalam urusan dakwah. Bukanlah di atas sebab-sebab kesalahan. Ayat-ayat tadi menegaskan bahwa ujian-ujian itu mempunyai hikmah untuk membedakan orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta dan berbohong. Di antara orang-orang yang munafik, untuk dikenal siapa yang sabar dan berjihad. Supaya dikenal siapa yang menentang dan taghut yang sombong. Supaya nyata kepada kita keadilan Allah tatkala diberi pembalasan yang setimpal kepada tiap-tiap golongan. Lebih dari itu hikmah dari ujian itu adalah untuk membersihkan dan mensucikan orang-orang yang beriman, supaya mereka bertambah imannya, dari iman yang telah sedia ada supaya mereka bertambah kuat memegang dakwah mereka sehingga mereka layak menerima pertolongan dari Allah. Supaya mereka memelihara dan mendukung amanah itu dengan sebaik-baiknya: "(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan:" Al-Hajj: 41 "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah; di pusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa ". Al-A'raaf : 128 Dengan yang demikian, kita berkata dengan hati yang tenang bahwa segala ujian dan tribulasi yang menimpa para pendukung dakwah itu adalah sunnah Allah, bukan akibat kesalahan. Lebih dari itu, kita berkata bahwa para jamaah dakwah yang tidak mengalami ujian dan bencana, perlu merujuk kembali, memeriksa sikap dan keadaan mereka karena kemungkinan besar mereka telah salah jalan dan melalui jalan yang tidak pernah dilalui oleh para generasi du'at sebelum mereka. Imam Syahid Hassan al-Banna rahimahullah pernah menyatakan tentang apa yang mungkin menimpa jamaah Ikhwan dari berbagai ujian dan bencana. Kenyataan itu dinyatakan sepuluh tahun sebelum terjadinya ujian dan bencana terhadap al Ikhwan. Kenyataan ini bukanlah merupakan satu khayalan atau imaginasi, tetapi ia berdasarkan sejarah dan kefahaman beliau terhadap dakwah bahwa sesungguhnya ujian itu merupakan sunnah Allah pada dakwah yang benar. Beliau berkata: "Di kala ini kamu telah memulakan perjalanan di jalan para pendukung dakwah dan ujian-ujian ini boleh jadi panjang, adakah kamu sanggup bertahan? Dalam pada itu kita tidak menafikan adanya kesalahan yang telah kita lakukan karena kita adalah manusia. Kita pun bukanlah maksum yang terpelihara dari segala kesalahan. Pada hakikatnya, barangsiapa yang bekerja, tentu bisa mengalami kesalahan dan orang yang tidak bekerja tidak akan mengalami kesalahan. Tetapi kesalahan yang mungkin kita lakukan itu hanyalah merupakan kesalahan juz'iah atau kesalahan perseorangan yang terjadi sebagai natijah ijtihad dari pemikiran manusia yang terbatas dalam batas niat yang baik yang kita berharap mendapat pahala daripadanya. Di samping itu, kita mestilah mengambil faedah dan pengajaran daripadanya". 11.1 Bolehkah Kita Mengelakkan Tribulasi (Ujian)? Apakah Mengurangkan Tekanannya Merupakan Penyelewengan di Jalan Dakwah? Ada yang menggambarkan bahwa dengan sedikit berpolitik, diplomasi dan menggunakan kecerdikan dapat mengelakkan ujian dan bencana yang menimpa para pendukung dan pemimpin dakwah serta menjauhkan mereka dari bencana dan siksaan yang sangat dahsyat dari musuh-musuh Allah. Benar dan tepatkah pendapat ini? Benarkah mereka boleh berbuat demikian selagi mereka berpegang teguh dengan dakwah mereka? Marilah kita mencari jawaban yang sahih terhadap persoalan ini. Marilah kita lihat sirah RasuluUah saw. yang kita ikuti jejak langkahnya dan berjalan di atas jalannya. Kita semua mengetahui bahwa Rasulullah saw. bersungguh-sungguh membawa kebaikan kepada orang-orang yang beriman, sangat pengasih dan sayang kepada mereka dan bersusah hati di atas kesusahan mereka sebagaimana yang disifatkan Allah Taala tentang baginda: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". (At-Taubah: 128) Rasulullah s.a.w. sendiri mengalami berbagai ujian penyiksaan hingga baginda sendiri melihat mukmin mengalami bentuk penyiksaan dari pihak kafir Quraisy. Sekiranya Rasulullah mampu membuat sesuatu untuk menghalangi penyiksaan kaum Musyrikin kepada mukminin dan melindungi mereka, niscaya baginda berbuat demikian. Namun, baginda hanya mewasiatkan supaya mereka bersabar, bertahan di atas akidah mereka, menggembirakan mereka dengan surga, dengan pertolongan Allah s.w.t. dan kemenangan agama Allah. Baginda bersabda kepada mereka, "Bersabarlah, sungguh hai keluarga Yasir, karena sesungguhnya janji Allah untukmu ialah surga". Imam Bukhari rahmatullah telah meriwayatkan dari Qais berkata: “Aku telah mendengar Khabab r.a. berkata: Aku telah mendatangi Rasulullah saw. sedang baginda berbantalkan burdadi di bawah naungan Ka’bah. Ketika itu kami sedang menerima penyiksaan yang keras dari kaum musyrikin, lalu dia berkata: Tidak maukah kamu berdoa kepada Allah? Lalu Rasulullah saw. duduk dengan merah padam mukanya lantas bersabda: Sesungguhnya telah terjadi kepada orang-orang sebelum kamu siksaan, di antara mereka ada yang disikat dengan sikat-sikat besi yang mencakar-cakar daging-daging dan urat-urat mereka hingga ke tulang-tulang mereka. Itu tidak memalingkan mereka dari agama mereka. Kepala mereka digergaji hingga terbelah dua. Ini tidak memalingkan mereka dari agama mereka. Satu masa nanti, pasti Allah akan menyempurnakan urusan agama ini dengan memberi kemenangan di mana orang yang menunggang itu berjalan dari San'a di Yaman ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali hanya kepada Allah dan hanya khawatir dengan serangan serigala ke kambing-kambing mereka. Tetapi, kamu ini ingin meraih kemenangan dengan segera." Demikianlah kita mendapati Rasulullah, walaupun sangat sedih melihat orang-orang yang beriman ditimpa bencana dan siksaan dari kaum Musyrikin, baginda murka apabila diminta supaya berdoa' kepada Allah untuk mereka. Ini bertujuan mendidik mereka supaya mereka tahu bahwa ujian dan bencana itu bukan perkara baru dan itu adalah sunnah Allah, undang-undang Allah yang pasti berlaku ke atas orang-orang yang beriman dan pasti berlaku di atas jalan dakwah Islam, sebagaimana yang telah dialami oleh orang-orang mukmin sebelum mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bersabar sebagaimana sabarnya mukminin sebelum mereka, bersabar dengan penuh tenang dan yakin bahwa kemenangan akhirnya akan menjadi milik mereka. Allah akan menyempurnakan urusan Islam itu dan menegakkan kedaulatannya di muka bumi sekalipun bagaimana besar dan banyaknya tipu daya musuh-musuh Allah. 11.2 Hingga Kapan Penyiksaan Musuh-Musuh Allah Terhadap Mukminin akan Berhenti? Sesungguhnya musuh-musuh Allah itu memerangi dakwah Allah melalui para pendukung dakwah dengan berbagai usaha, di antaranya dengan penyiksaan yang berterusan dan berulang untuk memalingkan mereka dari jalan dakwah. Kadang-kadang dengan rayuan, iming-iming palsu atau janji-janji manis yang penuh muslihat. Kadangkala pula berupa ancaman, gertakan, penyiksaan dan tindakan yang kejam. Mereka tidak berhenti berbuat demikian hingga para pendukung dakwah meninggalkan jalan dakwah. Dan nantinya, orang-orang mukmin atau objek dakwah meninggalkan dakwah mereka, mengikuti cara hidup aktivisnya menyokong kebatilan. Benarlah Allah swt. Yang Maha Agung berfirman: "Mereka tidak henti-henti memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (Al-Baqarah: 217) Firman Allah lagi: "Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak, sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu, dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." (Al-Mumtahinah: 2) "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (Al-Baqarah: 120) Sesungguhnya, penyiksaan yang dilakukan musuh-musuh Allah karena akidahnya tidak akan berhenti selagi para penganut akidah itu tidak mau meninggalkan akidah mereka, atau sekurang-kurangnya goyah dengan pegangan akidah dan tidak melakukan kegiatan dakwah mereka. Atau tidak melakukan gerakan akidah dan dakwah mereka. Sesungguhnya ini bukanlah merupakan permusuhan pribadi atau tujuan duniawi karena mereka telah menawarkan harta dan kekuasaan kepada Rasulullah saw. lalu baginda menolaknya dengan penuh kemuliaan iman, kekuatan azam, berpegang teguh dengan akidah dan terus bekerja untuk dakwah walaupun sikap yang tegas itu membawa kepada kebinasaannya. Dengan tegas, Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya hinggalah Allah memberi kemenangan ataupun aku binasa karenanya." Para aktivis dakwah dan penganut akidah Islam, tidak akan meninggalkan akidah dan dakwah mereka. Mereka tidak akan berhenti dari melaksanakan tugas-tugas harakah dan kegiatan dakwah mereka dan tidak akan memberhentikan jihad dan perjuangan mereka lantaran rintangan, gangguan dan penyiksaan yang menimpa mereka. Kalau tidak, lebih baik sejak awal mereka tidak tampil ke depan untuk memikul amanah ini dan tidak bangun melaksanakan segala tuntutannya. 11.3 Dakwah Itu Tegak dari Keazaman, Bukan Kemudahan Memang benar, Allah memberi keringanan untuk mengaku dengan kalimah kufur hanya pada lidah disebabkan tekanan dan penyiksaan selagi hatinya tidak rela dengan kalimah kufur itu dan jiwanya tetap beriman. Hal itu merupakan rahmat Allah kepada hambaNya, karena mengetahui kemampuan mereka yang terbatas. Firman Allah yang bermaksud: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang di dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar." (An-Nahl: 106) Tetapi, kemudahan itu tidak berarti kita boleh menjadikannya sebagai asas dan pokok pendirian mukmin apabila menghadapi gangguan dan penyiksaan. Lalu kita jadikan pengecualian itu sebagai ketahanan dan ketetapan dan berpegang teguh dengan akidah dan tidak menyahut segala tuntutan mereka. Sesungguhnya dakwah yang benar tidak mungkin berdiri di atas rukhsah (kemudahan) dan tidak boleh dijual beli dengan murah. Sebaliknya, ia mesti dibangun di atas uzmah (keazaman) oleh orang-orang yang mempunyai keazaman dan kekuatan. Oleh itu, sudah menjadi sunnah Allah dalam membedakan dan membersihkan serta menyucikan mukmin. Karena itulah, kita dapati Rasulullah saw. tidak menyuruh orang-orang mukminin menggunakan keringanan itu dengan tujuan menjauhkan mereka dari gangguan dan penyiksaan musyrikin Quraisy. Tetapi sesungguhnya baginda mengasihani mereka, menyuruh mereka bersabar, bertahan menanggung segala gangguan-gangguan musyrikin dan menggembirakan mereka dengan kemenangan yang pasti datang dan menjanjikan mereka dengan surga Allah. Rasulullah s.a.w. mempunyai pendirian yang tegas bersama dengan orang-orang yang beriman dan wahyu berturut-turut turun kepada baginda: "Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu, sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan Al-Quran itu benar-benar suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dipertanggungjawabkan." (Az-Zukhruf: 43-44) "Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: ’Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah." (As-Syuura: 15) "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu (Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang kafir di antara mereka." (Al-Insaan: 23 dan 24) "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (Al-Hijr: 94) Namun, orang-orang yang beriman itu harus menerima keuzuran (alasan), yaitu bagi orang-orang yang tidak mampu lagi menanggung derita gangguan dan penyiksaan selagi hatinya tidak berubah. Janganlah berubah hati terhadapnya dan janganlah mereka memutuskan hubungan persaudaraan dengan dia. 11.4 Mengelakkan Tribulasi (Ujian) adalah Penyelewengan dari Jalan Dakwah Apabila dakwah Allah telah berjalan dan dijalankan oleh para pendukungnya di jalan yang benar dan sahih secara syumul dan sempurna tanpa penyimpangan, musuh-musuh mengetahui tentang hasilnya berupa menghapuskan kebatilan mereka, menegakkan yang hak, membangun kebenaran di atas tempatnya karena sesungguhnya kebenaran itulah yang lebih patut diikuti. Musuh-musuh Allah menjalankan usaha-usaha dan tipudaya mereka tanpa henti untuk memalingkan dakwah Allah, menyimpangkan para pendukung dan para petugasnya dari jalan sahih. Ini menyebabkan orang-orang yang beriman mengalami bencana dan penyiksaan. Orang-orang yang beriman sebagai satu jamaah tidak akan dapat mengelakkan bencana dan penyiksaan itu kecuali apabila mereka meninggalkan dakwah mereka ataupun meninggalkan perkara yang menimbulkan kemarahan dan kegelisahan musuh-musuh Allah atau mereka bermufakat dan bekerjasama untuk dakwah atau bergerak dengannya. Segala bentuk toleransi demikian pada hakikatnya menyelewengkan dakwah dari jalan yang diridhai Allah di mana Rasulullah saw. dan para sahabat telah berjalan di atasnya. Kita wajib berjalan di atasnya mengikuti Rasulullah saw. yang menjadi sebaik-baik tauladan. Para pemimpin dan para pendukung dakwah harus mengetahui bahwa jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bungaan yang harum. Mereka mesti menguatkan azamnya untuk sabar dan mempertahankan akidah mereka. Hendaklah mereka tenang dan percaya kepada pertolongan Allah dan sokonganNya. Pada hakikatnya, musuh-musuh Allah itu tidak memerangi tubuh-tubuh mereka yang lemah. Yang menjadi sasaran siksaan, gangguan, sasaran senjata dan tali gantung mereka itu hanya karena mereka memusuhi Allah dan dakwah, "Dan Allah berkuasa terhadap urusanNya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (Yusuf: 21) Janganlah seseorang itu memahami bahwa kami dari golongan yang suka memasuki dan mencari tempat tahanan atau dari golongan yang suka diganggu dan dibunuh. Sekali-kali tidak. Justru, kita senantiasa memohon keselamatan pada Allah dan tidak menjadikan kita fitnah bagi orang-orang yang zalim. Kita mohon kepada Allah supaya kita diselamatkan dengan rahmatNya dari kaum yang zalim. Kita tidak pernah menolak keamanan dan kebebasan yang terbuka selagi hal itu tidak menyentuh akidah kita, tidak mengganggu keselamatan tujuan dakwah, penerusan usaha dan tidak merintangi jalanNya. Kita bukannya bercita-cita menemui musuh. Kita tidak mencari musuh atau membangkitkan kemarahan musuh dan kita tidak suka memberi alasan untuk membenarkan dia membuat permusuhan kepada kita. Sekiranya mereka memusuhi kita, itu menunjukkan permusuhannya kepada dakwah dan kita tidak dapat berbuat apa-apa kecuali bersabar menanggung dan mengharap kepada Allah. Kita tidak akan mengabaikan upaya dakwah kita dan kita tidak akan menguranginya. "Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa selain ucapan: ’Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang yang kafir." Karena itu, Allah memberikan mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di Akhirat.. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali lmran: 146-148) "Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami? Kami benar-benar akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan terhadap kami, dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 12) Sekilas, banyak orang menyangka bahwa ujian dalam bentuk penyiksaan, penindasan, penekanan dan bencana bisa mengancam dakwah dan merintanginya bahkan boleh jadi membunuhnya. Sangkaan yang demikian itu semakin kuat ketika ujian itu berlanjut dalam waktu yang sangat lama dan tidak tampak tanda-tanda mereda atau hapus sama sekali dengan tidak memperolehi faedah yang nyata dibidang dakwah. Mereka pun berkata, “Kemanakah perginya orang-orang yang telah melalui jalan dakwah? Di mana lambang-lambang dan simbol yang biasa muncul di setiap tempat? Di mana pejabat-pejabat, rumah-rumah dan institusi yang dahulunya telah memainkan peranan di dalam masyarakat seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, persatuan-persatuan, perkumpulan olahraga, dan kumpulan-kumpulan rekreasi dan berbagai kegiatan lain?" Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa dengan terhapusnya berbagai kegiatan tersebut merupakan kerugian besar dan menjadi bahaya besar yang menimpa para pendukung dakwah dan dakwah mereka. Ini benar menurut ukuran kebendaan. Tapi, pada hakikatnya, dalam kacamata dakwah justru sebaliknya. Terutama dalam sudut pandang akidah dan dalam ukuran Rabbani, ukuran ketuhanan. Akan saya terangkan lebih lanjut sampai manakah bahaya yang menimpa dakwah dan para pendukungnya dalam ujian ini. Saya akan menerangkan segala kebaikan dan faedah yang terkandung di dalamnya, di antaranya: 1. Sebenarnya, berapa banyak pendukung dakwah yang telah syahid di tangan musuh-musuh dakwah? Apakah yang syahid semasa disiksa atau di tiang gantung. Mereka adalah orang-orang terpilih dan pemimpin, pemimpin dakwah yang tinggi kedudukan dan nilainya di bidang dakwah. Pada zahirnya, ini merupakan kerugian besar bagi dakwah lantaran hilangnya mereka dari bidang dakwah dan kosongnya lahan dakwah dari usaha dan jihad mereka. Tetapi, pada hakikatnya, syahidnya seseorang di jalan dakwah menunjukkan tingginya dakwah ini dan mulianya tujuan dakwah. la melambangkan pengorbanan dalam jalan dakwah. Sesungguhnya, syahidnya seseorang memberi kesan dan pengaruhnya yang besar di dalam jiwa. Bahkan, lebih bermakna dari nasihat seratus penasihat. Sesungguhnya ini merupakan bekalan dan obor yang akan menyalakan iman dan semangat generasi kini dan akan datang. Demikianlah sekarang ini, apabila kita membaca kisah syahidnya Yasir, Sumayyah r.a. kita merasakan dorongan iman dan bekalan yang perlu kita gunakan di jalan dakwah walaupun mereka telah syahid empat belas abad yang lalu di zaman Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya keuntungan yang diperoleh oleh jamaah Islam di bidang dakwah dengan syahidnya mereka adalah keuntungan yang sangat besar. Syahidnya mereka telah melahirkan jiwa-jiwa yang kuat yang membawa kebangkitan Islam di zaman ini yang menjelma di dalam generasi baru di kalangan putera-puteri Islam di seluruh dunia terutamanya di seluruh dunia Islam. Mereka memperolehi ilmu, pengalaman dan contoh teladan yang baik yang ditinggalkan oleh para syuhada itu. Para syuhada itu pula telah berjaya mencapai peringkat syahid dan keridhaan Allah. Di atas dasar inilah maka syahidnya para syuhada itu adalah kebaikan umum bagi dakwah dan kebaikan khusus bagi syuhada. la bukanlah bahaya sebagaimana kelihatan pada zahirnya. 2. Di antara bentuk ujian yang pada zahirnya kelihatan berbahaya ialah berpalingnya begitu banyak manusia dari kerja dakwah. Mereka yang sebelumnya melibatkan diri dengan dakwah dan berjalan di atas jalannya, kemudian mereka terus berpaling. Pada zahirnya barisan dakwah telah berkurang, dakwah kehilangan banyak pendukungnya, lantaran itu usaha-usaha dakwah juga berkurang. Namun, pada hakikatnya barisan dakwah semakin kuat dan semakin berpadu dan telah bersih dari titik-titik kelemahan. Lebih dari itu, Allah menggantikan yang hilang dengan begitu banyak orang lain yang lebih mulia dari mereka dan itulah sunnah Allah. "Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)." (Ali Imran:179) Dan di dalam ayat yang lain: "Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak seperti kamu (ini)." (Muhammad: 38) Demikianlah, saat ini kita melihat bagaimana putera-puteri kita, generasi muda Islam yang berjiwa Islam dan iman yang benar, terus berjalan di atas jalan dakwah dengan segala kefahaman dan keazaman, giat berusaha dan bekerja untuk Islam setelah mereka mengetahui dan mendengar apa yang terjadi kepada generasi Islam yang telah mendahului mereka. 3. Di antara bentuk ujian yang dianggap bahaya pada zahirnya ialah penindasan ke atas dakwah dan menyekatnya dari berkembang, perjalanannya dihalang dengan cara melarang para pendukung dakwah untuk berdakwah, merampas kitab-kitab, majalah-majalah dan surat-surat kabar mereka. Walaupun produktivitas secara langsung di dalam dakwah berkurang karena ujian itu, tetapi pada hakikatnya dakwah meraih keuntungan langsung daripadanya dengan pengertian bahwa orang-orang yang mendapat ujian itu bertambah pengalaman dan semakin berpegang teguh dengan dakwah mereka. Lebih dari itu, mereka lebih berusaha untuk membulatkan diri dan tujuan kepada dakwah, bertahan di dalam dakwah dan siap berkorban. Kepercayaan kepada saudara-saudara mereka bertambah kuat, ikatan persaudaraan dan soliditas mereka bertambah erat. Semuanya itu membawa faedah yang banyak kepada dakwah, bahkan lebih besar dari sebelum mereka menerima ujian itu. Lebih dari itu, kita dapati para pendukung dakwah yang terpaksa bertebaran di bumi Allah karena kuatnya penindasan, tekanan dan gangguan di negeri mereka. Tetapi dengan demikian, mereka dapat menyampaikan dakwah mereka di mana saja mereka berada. Itulah yang telah terjadi di zaman Rasulullah, di zaman permulaan dakwah Islam di mana Islam dan dakwahnya berkembang dan berpijak di Madinah melalui para sahabat Muhajirin yang diusir dari Mekah. Itulah juga yang terjadi di zaman ini, di zaman kita melihat perkembangan Islam dan dakwahnya di seluruh dunia terutam di Eropa, Amerika dan Australia melalui para pendukung dakwah yang telah ditindas di tanah air mereka. "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah tetap akan menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." (As-Shaff: 8) 4. Di antara bentuk bahaya yang menimpa dakwah dan para duat dalam ujian itu, yang pada zahirnya membahayakan dakwah dan para pendukungnya ialah banyaknya dari mereka yang ditangkap, dipenjarakan dan mengalami penyiksaan dan penderitaan yang mengerikan bertahun-tahun lamanya. Hal ini merupakan bahaya pada zahirnya, tetapi pada hakikatnya menjadi kebaikan. Sekiranya para syuhada menjadi lambang pengorbanan dan tebusan, maka kesabaran orang-orang yang meringkuk di dalam penjara dengan segala penyiksaan dan penderitaan yang menimpa mereka selama bertahun-tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dan ada yang sampai lebih dua puluh tahun, merupakan lambang ketahanan bersama kebenaran tanpa meninggalkan usaha dan kegiatan dakwah mereka. Ini merupakan bekalan dan obor yang menyalakan iman di kalangan generasi baru zaman ini dan di masa yang akan datang. Insya Allah. Jelaslah bahwa saudara-saudara kita yang Muslim yang telah mengalami gangguan fisik, gangguan kebendaan dan moral yang berterusan selama dua puluh tahun tanpa menggoyahkan pendirian mereka padahal mereka ini mampu mengelakkan bencana dan ujian itu sekiranya mereka menyetujui sikap taghut yang berkuasa dan zalim itu dan meninggalkan dakwah mereka. Tidak syak lagi bahwa sikap mereka itu adalah sifat yang mulia karena mereka bertahan bersama kebenaran. Sifat mulia, ketegasan dan ketangkasan mereka disanjung tinggi dan dibanggakan oleh orang-orang mukmin sepanjang masa. Itulah kurnia Allah yang telah dikurniakan kepada orang-orang yang dikehendaki. Maka sekiranya hari itu silih berganti. Membawa nikmat dan derita tidak terperi. Peristiwa-peristiwa sedemikian tidak mungkin melemahkan pendirian kami. Perbuatan yang tidak menyenangkan itu tidak mungkin menghina kami. Cobalah kita bayangkan bagaimana jika semuanya telah meninggalkan tugas dakwah dan membuang benderanya karena mengutamakan keselamatan diri dari menghadapi panas teriknya ujian-ujian. Sudah tentu, ini menimbulkan reaksi dan akibat yang sangat buruk kepada dakwah dan menghalangi dakwah Islam di kalangan para pemuda dan generasi yang sedang dan akan muncul. Demikianlah, kita lihat pada zahirnya ia merupakan bahaya tetapi pada hakikatnya menjadi kebaikan umum bagi dakwah dan kebaikan khusus bagi orang-orang yang mengalami penyiksaan. Allah telah memberi kesabaran dan ketahanan kepada mereka di atas kebenaran. Insya Allah mereka akan mendapat kurnia dan pahala dari Allah karena kesabaran dan ketahanan mereka. 5. Dari bentuk-bentuk yang pada zahirnya merupakan bahaya yang menimpa dakwah dan para pendukungnya ialah berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dilemparkan kepada para da'i dan dakwah mereka untuk membusukkan nama baik mereka, untuk menghina mereka, untuk mengelabui mata orang lain supaya mereka lari dari dakwah Allah, supaya mereka menjauh dari seruan Allah. Ini bukanlah hal baru di atas dakwah yang benar. Dari dulu, angkatan taghut, angkatan jahiliah telah melemparkan berbagai tuduhan palsu kepada Rasulullah s.a.w. Mereka telah menuduh Rasulullah s.a.w. sebagai tukang sihir, orang gila, pembohong, pemecah belah masyarakat, memisahkan antara bapa dengan anak dan keluarga dan memperbodohkan tuhan-tuhan mereka dan berbagai tuduhan palsu yang jahat yang ditujukan kepada Rasulullah s.a.w dan kepada Islam. Tetapi akhirnya, segala kepalsuan itu tidak dapat bertahan lama apabila berhadapan dengan kebenaran. Tameng-tameng kebobrokan mereka terungkap. Nyatalah kebenaran Rasulullah s.a.w., nyatalah kejayaan agamaNya dan apa yang dibawa itulah yang benar dan itulah yang menang. Sejarah telah berulang kembali, di mana angkatan jahiliah dan taghut zaman ini melemparkan tuduhan palsu kepada para pendukung dakwah dengan berbagai tuduhan palsu dan jahat, mengganggu ketenteraman umum, ikhwanushayatin (kawan-kawan setan) boneka penjajah, mereka hendak menghancurkan segala pembangunan serta membunuh orang-orang yang tidak berdosa untuk merebut kekuasaan. Mereka mabuk kuasa, bertopengkan agama dan berbagai tuduhan liar dan palsu dan propaganda yang palsu dan liar untuk memburuk-burukkan dan membusukkan dakwah dan para pendukungnya supaya para pemuda, generasi muda dan para pekerja untuk Islam lari dan menjauhkan diri dari dakwah dan pendukungnya. 6. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui telah melahirkan hakikat yang sebenarnya, lalu terbukalah kedok mereka yang zalim dan taghut itu. Kezaliman mereka telah diketahui umum, dikenali oleh dunia, segala tindakan kejam mereka, segala tuduhan palsu mereka, segala propaganda liar mereka telah dicatat di dalam sejarah. Lebih dari itu, generasi baru Islam di seluruh dunia Islam telah bangkit dan bangun mendukung dakwah Islam dengan sepenuh jiwa, dengan iman yang benar dan dengan hati yang ikhlas. Di antaranya lagi ialah rumah Ikhwan, yayasan mereka, sekolah-sekolah mereka, rumah sakit mereka, institusi bisnis mereka telah dirampas oleh taghut dan berbagai kegiatan Ikhwanul muslimin telah dibekukan dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas risalahnya yang penting itu. Dari sudut kebendaan, ini merupakan kerugian yang besar, akan tetapi kerugian kebendaan itu adalah kerugian yang kecil karena terlebih dahulu daripada itu angkatan Muslimin yang pertama dan utama itu di zaman permulaan dakwah di zaman Rasulullah s.a.w telah meninggalkan tanah air mereka, meninggalkan rumah-rumah mereka dan harta benda mereka karena mengutamakan dakwah mereka dan segala kepentingan kebendaan mereka tatkala mereka berhijrah dari Mekah ke Madinah. Tetapi Allah telah menggantikan segala kerugian mereka dengan kemenangan yang gemilang hingga mereka berjaya membangun daulah Islam di Madinah, di Mekah, di seluruh Semenanjung Tanah Arab. Mereka berhasil mengalahkan raksaksa Barat (Romawi) dan raksaksa Timur Parsi (Iran) yang merupakan penguasa dunia dan peradaban pada zaman itu. Rasulullah s.a.w bersabda, "Menanglah Suhaib, menanglah Suhaib". Kita juga tidak lupa tentang pendirian Ansar terhadap saudara-saudara mereka para Muhajirin, bagaiman mulianya sikap mereka mengutamakan saudara-saudara mereka lebih dari diri mereka sendiri, kemurahan dan kemuliaan mereka dilukiskan di dalam al-Quranul Karim yang menjadi teladan yang baik sepanjang masa. Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa segala kebendaan yang menimpa para pendukung dakwah, supaya mereka tidak disibukkan oleh benda, tidak dimabuki oleh harta dan tidak dikuasai oleh dunia. Di samping itu ia menyuburkan pengertian tolong menolong, tanggungjawab dan ingat mengingati di kalangan para du'at di dalam bidang dakwah. Dengan terhentinya perkhidmatan ikhwan yang berdasarkan Islam dan menurut cara Islam yang selama ini dilakukan oleh yayasan-yayasan ikhwan yang tadinya membawa kebaikan yang banyak kepada masyarakat, masyarakat menjadi kosong dari faedah-faedah perkhidmatan menurut cara Islam dan adab-adab Islam. Walaupun begitu para pendukung dakwah akan berusaha terus membangun kembali yayasan-yayasan dan perkhidmatan itu apabila peluang terbuka untuk berbuat demikian. Demikianlah kita melihat bahwa ujian dan bencana yang menimpa-, dakwah dan para penganutnya sebagai sunnah Allah, undang-undang Allah yang telah berlaku selagi ada dakwah dan para pendukungnya. Ujian-ujian itu pada zahirnya berupa bencana, tetapi di baliknya, terkandung kebaikan. Jadi nikmat dan kurnia dalam rupa bencana. Tidak ada yang dikehendaki Allah kepada dakwahNya dan para pendukungnya kecuali kebaikan saja. Jadi bencana-bencana itu bukanlah merupakan saat-saat kematian atau pukulan maut, tetapi merupakan masa-masa yang menghidupkan kekuatan, yang mendorong untuk berjalan di atas jalan dakwah dengan penuh kekuatan dan ketahanan. Ada orang yang menyangka bahwa bencana itu sebagai topan yang menghancurkan dan meruntuhkan lalu menghapus segala realita kehidupan dan gerakan Islam. Dia melihat musuh-musuh itu telah berjaya mengalahkan para pendukung dakwah dan menghapus dakwah menurut kehendak mereka. Betapa tidak! Semua lambang telah dihapus, rumah-rumah mereka telah ditutup, yayasan-yayasan mereka telah dirampas, segala kegiatan mereka telah dihentikan, segala usaha yang dibuat di dalam lingkungan dakwah telah musnah dan tidak ada lagi kesan dan bekasnya. Sejauhmana kebenaran pandangan itu? Benarkah ia sesuai dengan realita? 13.1 Salah Persepsi Kita teringat kembali kepada peristiwa yang telah terjadi dua puluh tahun yang lalu ketika hukuman zalim dijatuhkan oleh "mahkamah rakyat" terhadap Ikhwanul Muslimin. Tatkala itu seorang yang pernah menderita oleh bencana itu telah memberikan pandangannya: "Jamaah Ikhwan itu seperti sebuah bangunan yang besar lalu bencana itu datang meruntuhkan dan menjadikannya serpihan-serpihan yang bertumpuk-tumpuk." Menurut saya persepsi itu salah dan menghalangi dakwah karena dia menganggap segala usaha yang telah dibuat dan segala pengorbanan yang telah diberikan di berbagai bidang dakwah sebelum bencana tiba-tiba terhenti dan musnah tanpa kesan. Segala usaha untuk membangunkannya kembali mungkin turut musnah dan demikianlah seterusnya. Pandangan sedemikian menyekat apa yang telah lalu, sekarang dan akan datang. Pandangan tersebut mendorong kita berfikir mengenai hakikat yang benar tentang dampak bencana pada jamaah dan anggotanya lalu saya bertanya-tanya sendiri: "Benarkah sudah ada bangunan yang dibina, kemudian runtuh, atau kita masih berada di peringkat persediaan untuk membina sebuah bangunan?" Jika diperhatikan, kita dapati bahwa sebuah bangunan itu, didahului oleh persiapan batu bata yang kuat dan keras sebagai komponen bangunan di samping tapak yang kuat untuk membina bangunan di atasnya. 13.2 Menyediakan Batu-Bata yang Kuat Untuk Bangunan Biasanya kita terlebih dahulu menyediakan bahan-bahan mentah di dalam acuannya yang tertentu, kemudian di keringkan dan diatur kemudian dibakar untuk membersihkan supaya bertambah kuat dan keras, kemudian barulah bangunan tersebut dibangun menggunakan batu-bata yang telah keluar dari pembakarnya. Dari perumpamaan tersebut, kita lihat bahwa peringkat dakwah sebelum ujian itu seperti persediaan batu bata yang mentah dan ujian itu seperti pembakaran untuk membersihkannya. Ini berarti bahwa setelah Imam as-Syahid hendak membina bangunan dan menentukan peringkat-peringkat, beliau memulakannya dengan membentuk individu-individu dalam acuan Islam yang sahih dari setiap aspek apakah dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, kefahaman dan amalan. Segala kegiatan yang berupa usrah, pasukan-pasukan, operasi ketenteraan, ceramah-ceramah, forum-forum, pengembaraan (mukhayam dan rihlah) dan lain-lain lagi. Semuanya itu merupakan cara dan jalan untuk membentuknya dengan acuan Islam yang sahih: "Sibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik sibghahnya dari sibghah Allah dan hanya kepadaNyalah Kami menyembah." Al-Baqarah: 178 Setelah itu, fitnah dan ujian datang menimpa Ikhwan untuk membersihkannya. "Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka)."Alilmran: 141 "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." Al-Ankabut: 1-3 "Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib." Alilmran: 179 Melalui pembakaran itu terhasillah batu bata yang kuat dan keras yang tahan menerima tekanan yang kuat dan tidak dapat dicairkan oleh air. Dari pembakaran itu terdapat juga batu bata yang retak dan pecah serta tidak dapat dipakai untuk membuat bangunan. Dengan perumpamaan ini, ujian dan bencana itu membawa dampak yang berbeda-beda kepada anggota-anggota jamaah. Sebagian mungkin berpendapat ini semua sebagai pembersihan, keteguhan dan kekuatan. Iman mereka yang telah ada semakin bertambah. Mereka tidak surut disebabkan bencana dan tidak terpedaya oleh akibat. Sementara itu, sebagian mereka ada yang menjadi lemah dan mundur. Mereka terdiri dari beberapa peringkat yang berbeda, ada yang lebih dan ada yang kurang. Biasanya, batu bata yang baik dan kuat, yang digunakan untuk membina sebuah bangunan dicantumkan di antara satu sama lain dengan semen supaya batu itu kuat. Demikian juga individu-individu yang telah mengalami ujian bertambah teguh dan kuat dengan istiqamah mereka di atas manhaj Islam yang sejahtera tanpa penyelewengan dan dengan iltizam mereka untuk jamaah. Unsur yang mengikat sesama mereka adalah ikatan persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyah), saling tsiqah dan cinta-mencintai sesama mereka karena Allah semata. 13.3 Golongan yang Ketiga Setelah terjadi ujian dan bencana itu, lahirlah golongan yang ketiga yang juga sebagian dari natijah (hasil) ujian, yaitu golongan yang melampau dan keterlaluan dalam menghukum golongan lain dan tidak lagi beriltizam dengan kesatuan barisan. Perbandingannya di dalam contoh tadi seperti sebagai batu bata yang telah hitam warnanya lantaran terlalu kuat pembakarannya. Bentuknya berubah dan tidak lagi memelihara istiqamahnya, dan boleh jadi menggabungkan dirinya kepada golongan yang lain lalu membentuk satu pasukan yang tidak mudah dipisahkan daripadanya serta tidak layak lagi digunakan untuk membuat bangunan walaupun pada zahirnya dia kuat. Ada kalanya, batu bata yang lemah itu dapat dipergunakan menurut kemampuannya. Tetapi batu bata yang keterlaluan kerasnya itu tadi tidak dapat digunaklan lagi sebab dia akan membawa kekacauan di dalam saf karena bengkoknya. Demikian juga individu yang lemah, masih dapat digunakan lagi mengikut kemampuannya, tetapi mereka yang telah melampaui batas keterlaluan, mereka itu tidak istiqamah kef ahaman mereka. Sikap-sikap inilah yang menghalang jemaah mendapat faedah dari mereka selagi mereka tidak mengubah sikap keterlaluan mereka, memperbaiki orisinalitas kefahaman dan cara-cara mereka beramal. Ini memerlukan kesabaran dan kesungguhan dari kita dan dari mereka dengan benar dan ikhlas. Ini semua adalah satu perumpamaan yang sahih terhadap dampak-dampak dari tribulasi. Tribulasi atau ujian tidak meruntuhkan bangunan tetapi melicinkan, membersihkan, membedakan dan membantu penyediaan untuk membuat bangunan. Perumpamaan ini juga memberikan jawaban kepada orang yang bertanya: "Kenapa kita melihat sebagian daripada orang-orang yang terlebih dahulu memikul tanggungjawab dakwah sebelum ujian dan bencana itu tidak dapat bertahan? Adakah pemilihan mereka itu salah? Kalau kita pandang dengan teliti, kita akan dapati bahwa lamanya batu bata itu dibakar tidak semestinya menjadi jaminan di atas kekuatan dan kebulatan semua dan seluruhnya di dalam pembakarannya. Contoh itu serupa dengan kesan tribulasi kepada individu-individu karena batu-bata itu dari tanah dan kita pun berasal dari tanah. Perbedaan hanya terdapat di dalam jenis nyalaan api yang dengannya disempurnakan kebulatan (at-tahmis) dan kebersihannya. 13.4 Apakah yang Diuji dalam Diri Seseorang dalam Tribulasi Mungkin berguna juga jika saya terangkan bahwa gangguan yang menimpa seseorang di tengah-tengah tribulasi itu bukan saja dari segi anggaran ketahanan jasmaninya dalam menerima gangguan dan penyiksaan. Tetapi yang terpenting diuji ialah iman seseorang, keikhlasannya untuk dakwah dan pengorbanannya pada jalan dakwah. Kefahaman terhadap ikhlas, sejauh mana sehatnya dan kemurniannya dari segala campuran dan penyelewengan. Demikian juga amalnya, sejauh mana ia sesuai dengan syariat Islam tanpa kecuaian dan keterlaluan. Juga diuji kebulatannya terhadap dakwah dan kosong hatinya dari yang lain selain dari dakwah. Tentang jihadnya pula, sejauhmana benarnya tujuan dan niat di dalam hatinya yang hanya meninggikan kalimah Allah, juga diuji ketahanannya dalam menyebarkan benderanya walau betapa pun susahnya. Juga persaudaraannya diuji terhadap saudara-saudaranya, dan cintanya kepada mereka dan kesungguhannya dalam menjalinkan ikatan persaudaraan walau bagaimana pun cara musuh-musuh berusaha untuk merusakkan, memperkotak-katikkan atau mengadu domba. Juga diuji ketaatan dan kepercayaannya untuk dakwah dan dengan dakwah, ketetapan dan kekuatan langkah-langkahnya di dalam jalan dakwah tanpa keraguan bersama orang-orang ragu. Segala aspek tersebut teralami dalam ujian dakwah di dalam diri seseorang melalui berbagai bentuk gangguan dan tekanan. Tidak semua ujian berupa gangguan dan penyiksaan. la juga mengandung cara lain seperti perdebatan, penyiasatan, pengaburan mata, bujuk rayu, nasihat, pengarahan pada zahirnya dan macam-macam lagi siasat musuh. Untuk menyelamatkan diri dari tipu daya yang tidak terkira banyaknya itu terpulanglah dan terserahlah kepada Allah sebab Dialah yang meluruskan, menolong, memberi kesabaran, memberi ketatapan dan ketahanan. Dialah yang menambahkan iman di atas iman mereka yang ada. 13.5 Dasar Bangunan Atau Asas Dasar yang kokoh yang didirikan bangunan di atasnya dengan kuat dan teguh adalah merupakan perumpamaan di dalam pembentukan satu generasi mukmin yang mempunyai iman yang kuat dengan akidah Islam yang membentuk segenap aspek kehidupannya. Dengan persiapan itu, dia sanggup dan rela mengorbankan segala yang murah dan mahal serta melindungi dan membelanya dari tipu daya musuh. Dia tidak tenteram dan tidak puas hati selagi Allah tidak memberi kemenangan kepada agamanya dan tertegaknya daulah Islam di muka bumi ini untuk memainkan peranan yang diwajibkan kepadanya terhadap seluruh manusia. Pendukung akidah yang beginilah yang membangunkan dan mendirikan keluarga Islam yang ideal sebagai asas pembangunan masyarakat Islam. Masyarakat Islam yang bergerak dengan dakwahnya dan menghimpunkan manusia di atasnya sebagai persediaan dasar (tapak) Islam yang kuat untuk membangunkan pemerintahan dan daulah Islam. 13.6 Adakah Cangkul Peruntuh Itu Telah Merusakkan Asas? Ada orang menyangka bahwa persediaan rapi yang telah disediakan untuk asas bangunan itu telah diruntuhkan satu demi satu oleh kebatilan dengan segala cangkul dan kejahatannya. Oleh itu, kita tidak akan dapat menyempurnakan satu bangunan dengan cara dan jalan itu. Oleh itu, wajiblah kita memikirkan satu cara dan jalan yang lebih cepat, lebih praktis serta lebih berkesan. Namun, pada hakikatnya, asas yang kuat dan teguh tidak dapat diruntuhkan oleh cangkul-cangkul batil, tetapi cangkul itu hanya akan menyentuh bagian asas yang lemah dan pecah. Begitu jugalah cangkul batil itu dahulunya tidak dapat merusak Muslimin pertama yang telah terdidik di dalam madrasah Rasulullah s.a.w. dan terbentuk di dalam naungan al-Quran dan di atas bahu mereka dibangunkan daulah Islam dan pemerintah Islam yang pertama. Maka pendokong akidah yang sebenarnya bertahan seperti gunung tatkala berhadapan dengan tipu daya musuh, semoga Allah memberi rahmat kepada Imam Syahid Hassan al-Banna tatkala berkata: "Kekuatan itu adalah sebaik-baik kekuatan apabila dia bersama dengan kebenaran dan seburuk-buruk kelemahan ialah kelemahan berhadapan dengan kebatilan". Yang sangat penting, diperhitungkan sini di jalan dakwah kita ialah, janganlah kita terlalu menumpukan seluruh usaha kita kepada berbagai-bagai peristiwa dan isu-isu semasa atau urusan-urusan yang juz'iah, atau cabang-cabang (furu'iah), lalu kita lengah terhadap urusan yang maha besar, urusan Islam yang akan menyelesaikan segala urusan juz'iah. Oleh itu, sangatlah perlunya kita berterusan dalam menyempurnakan marhalah ini, yaitu memantapkan dasar (tapak) yang kukuh dan asas yang kuat karena tidak ada bangunan tanpa asas. Kita juga jangan terdorong oleh nafsu hendak cepat mencapai hasil lalu kita lekas-lekas membuat kerja yang merusakkan yang membawa kita membuat kerja yang tidak betul dan tidak memperbaiki perbuatan kita. Karena kita bertanggungjawab terhadap kerja-kerja kita. Kita dihisab di atas hasil. Masa itu diukur dengan umur ummah dan dakwah, bukan diukur dengan usia individu. Kelambatan sampai kepada tujuan tidak berarti salahnya harakah atau buruknya perencanaan. 13.7 Kesimpulan Sebenarnya, tribulasi di atas jalan dakwah itu adalah sunnah-sunnah Allah dan ketentuan Allah yang mesti berlaku di dalam dakwah, bukan akibat dari kesalahan. Tetapi jika pera pendukung tidak terjatuh kepada gangguan, bencana dan ujian, inilah yang menimbulkan keraguan, apakah salah atau betulnya jalan yang mereka lalui. Para pendukung dakwah tidak mungkin mengelakkan diri dari berbagai gangguan, ujian dan bencana, ataupun mengurangi tekanannya atau memendekkan masanya selagi mereka berpegang teguh dengannya dan bersungguh-sungguh beramal dengannya dan untuknya. Bencana dan ujian itu bukan merupakan tanda-tanda kematian di dalam umur dakwah, tetapi dia merupakan bermulanya kehidupan yang lumrah dan mesti dilalui. Sebenarnya bahaya yang menyertai tribulasi itu, pada hakikatnya ialah satu kebaikan dan faedah yang berguna kepada dakwah, jamaah dan kepada individu-individu walaupun zahirnya berupa bahaya. Oleh karena itu, ujian dan bencana dalam dakwah adalah kekuatan yang mendorong dan bukanlah pukulan-pukulan yang mematikan dan semuanya itu adalah baik dan bukanlah bahaya. Apa yang dikehendaki Allah kepada dakwahnya adalah baik. Oleh karena itu, kita berkata: Sebenarnya inilah nikmat kurnia di dalam bentuk bencana. Para pendukung dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, kepada agama Allah, kepada ajaran Islam, wajiblah tenang, tenteram, berpuas hati dan yakin bahwa mereka berjalan menurut jalan yang benar, di jalan yang dilalui Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya dahulu tanpa perubahan dan penukaran senantiasa di dalam Peliharaan Allah dan PerlindunganNya. Dialah yang memimpin dan meluruskan dan menolak tipu daya daripadanya: "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat lagi mengingkari nikmat." Al-Hajj: 38 "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamaNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." Al-Hajj: 40 "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada di dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku." An Nuur: 55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dikomen yah ^_^