Senin, 09 Mei 2011
Wahai Para Suami Dan Calon Suami
Apakah Anda tahu?
...Ia adalah bagian dari tulang rusukmu.
Ia adalah belahan jiwamu.
Ia adalah tawanan di tanganmu.
Padanya sumber ketenangan, cinta kasih dan ketentraman, karena demikanlah Allah menciptakannya untukmu.
Ia adalah pakaian bagimu & yg terutama ia adalah amanah yg Allah berikan untukmu.
Bagaimanakah kau memperlakukan amanah itu??
Terlalu banyak wasiat tersebar untuk para istri seakan Islam adalah agama yg hanya mengutamakan para suami & kaum lelaki, padahal tidaklah demikian bahwa Islam membela kaum wanita dengan memuliakan & mengangkat derajat mereka.
Wanita adalah orang yg disucikan, ibu para ulama, ibu para panglima, & ibu para pembesar.
Bukankah ia adalah ibu Umar, ibu Anas, ibu Umar bin Abdil Aziz, ibu Imam Ahmad, ibu Imam Syafi ’i, ibu Shalahudin, ibu Ibnu Taymiyah, ibu Ibnul Qayyim & yg lainnya??
Untuk para suami ataupun calon suami risalah ini kutulis sebagai penyejuk hati bagi kaum wanita & para istri.
Wahai hamba Allah yg bertaqwa,
berbahagialah dan bersyukur pada-Nya atas nikmat istri yg Allah karuniakan kepadamu.
Dengannya terjagalah jiwa & tubuhmu dari melakukan hal-hal yg diharamkan-Nya.
Ketika habis masa bulan madumu,
tiba-tiba kini kau tidak lagi memiliki waktu.
Waktu untuk bergurau & bercengkrama dengan istri tercinta.
Bila sang istri meminta, maka kaupun berkilah betapa lelah & penatnya hari- harimu disibukkan dengan pekerjaanmu. Rumah hanya menjadi hotel untukmu, datang & pergi sesuka hatimu. Ketika kepalamu menyentuh bantal, kau mendengkur laksana tiada orang lain disisimu.
Seakan kau lupa bahwa sumber teladan kita adalah manusia yg paling sibuk diatas muka bumi pada waktu itu.
Beliau memiliki lebih dari 1 orang istri & lihatlah dalam sejarah adakah diantara istri-istrinya lepas dari pengawasan beliau?
Adakah yg mengeluhkan tentang kesibukan beliau?
Beliau shalallahu alaihi wassalam ditimpa berbagai macam persoalan umat & masalah yg sekiranya diletakkan (dibebankan) kepada banyak orang, niscaya mereka tak akan sanggup mengembannya, tapi lihatlah ketika sahabat bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bagaimana sikap Rasulullah bila menemui kalian?”
Ia menjawab: “Beliau masuk dengan tertawa dan tersenyum seakan tidak ada beban di pundak beliau yg mulia, seakan beliau tidak memiliki beban & persoalan yg berat sehingga istri-istri beliau merasa nyaman & senang bercanda dengan beliau.”
Dalam kitab Bukhari bab Al-Adab, Zaid bin Tsabit berkata tentang Rasulullah bahwa beliau suka bercanda dengan istrinya, dihormati diluar rumah.
Tentu berbeda dengan sebagian suami yg ditemukan pada zaman ini, mereka suka bercanda & tertawa dengan teman- temannya, akan tetapi cemberut & bermuka masam terhadap keluarganya di rumah.
Wahai para suami ataupun calon suami,
Rasulullah telah bersabda,
“Sesungguhnya istrimu memiliki hak atasmu.”
(dikeluarkan oleh Muslim 3652, Ahmad 26917, Abu Dawud 2285).
Istri adalah wanita yg lemah lembut, menginginkan kasih sayang, cinta kasih, keramahan & kebajikan. Karena itu hendaklah suami senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam menghadapi istri dengan memberikan kasih sayang, kelembutan, kesetiaan dalam menjaganya, memberinya nafkah, pakaian, papan dan janji setia. Sebagaimana yg dikumandangkan oleh beliau pada haji Akbar(dalam hadits yang sangat panjang) yaitu ketika mengumumkan hak-hak wanita dan hak seluruh manusia, beliau bersabda,
“Allah, Allah, pada wanita karena mereka itu adalah tawanan disisi kalian. Dan saling berpesanlah agar berlaku baik terhadap wanita.”
(hadits riwayat Tirmidzi, hasan shahih).
Adalah Aisyah ketika ditanya tentang perilaku Rasulullah yg paling membekas & berkesan dikalbunya sepeninggal beliau, maka ia hanya mampu meneteskan airmata seraya berkata,
“Semua sikap dan perilakunya mengesankan bagiku ( kaana kullu amrihi ‘ajabani).”
Bagaimana tidak,
Rasulullah seakan selalu punya waktu untuknya.
Rasulullah pernah mengajaknya berlomba lari, beliau Shalallahu alaihi wassalam pernah kalah dan pada kesempatan yg lain beliau memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata,
“Ini adalah pembalasanku dari kekalahanku yg dulu.”
Adakah hal ini dicontoh oleh para suami?
Tidaklah harus di lapangan atau di jalan raya, cukuplah ketika tidak ada orang lain dirumah, maka kita bisa melakukannya.
Justru yg sering kita dengar & membuat hati ini miris serta berduka, malah istri banyak yg lari ketakutan karena dikejar-kejar suaminya yg sedang marah yg dimana jika kita bertanya bagaimana keadaan rumah tangganya, tiba-tiba airmata yg keluar tampak kesedihan dan kebencian diwajahnya. Yang hadir adalah rasa takut, jengkel, duka dan lara bila mendengar suaminya disebut, sebab yg tergambar dalam benaknya adalah masa-masa yg penuh penderitaan & penganiayaan.
Na'udzubillah..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Subhanallah.....
BalasHapusAllah Maha Kasih dan tak Pilih kasih