Sabtu, 14 Mei 2011

♥♥.•*Menikah, Antara Keinginan dan Tujuan*•.♥♥

Fulanah kembali menata dirinya setelah sekian lama larut dalam kesedihan karena merasa dikecewakan. Bangkit dari rasa kehilangan dan kesedihan memang tak mudah. Beruntungnya Fulanah, karena dia punya banyak teman yang peduli dan selalu mendukungnya.



Dari beberapa solusi yang disampaikan teman-teman padanya, Fulanah mencoba untuk mengaplikasikannya. Memang belum sempurna, tapi setidaknya sedikit demi sedikit perasaan menyakitkan itu terobati.



Perenungan panjang yang dilakukannya membuahkan suatu kesimpulan, bahwa apa yang didapatkannya saat ini adalah buah dari kesalahan- kesalahannya di masa lalu. Fulanah bersyukur karena dia merasa 'dijewer' oleh Allah di dunia ini. Dia mencoba untuk tidak berburuk sangka kepada Allah.



Dia pun terus menambah ilmu, dan yang paling penting menanamkan keyakinan dalam dirinya, bahwa apa yang dialaminya merupakan ketentuan Allah yang terbaik baginya. Ada satu hal yang dia garis bawahi, bahwa dia belum sepenuhnya ikhlas menerima musibah ini. Dia pun tidak cukup sabar menjalaninya. Oleh karena itu, apa yang dirasakannya menjadi beban berat.



Sabar. Ini, memang klise. Tapi itulah yang dapat menolong kita untuk menjalani hidup ini. Ketidaksabaran seseorang dalam mengarungi ujian Allah biasanya lebih disebabkan oleh ketidakmampuannya memahami hikmah apa yang ada di balik musibah itu.



Jika saat ini Allah belum menakdirkan Fulanah menikah, maka Fulanah perlu melakukan evaluasi diri lagi, siapa tahu niatnya untuk menikah belum benar. Niat yang benar ini akan sangat mendukung terwujudnya pernikahan yang berkah. Seorang ustadz pernah menerangkan bahwa nikah yang berkah itu diawali dengan niat yang benar dan doa. Tapi, cukupkah?



Dalam hal ini perlu ada satu pembahasan tentang tujuan menikah.Motivasi dan tujuan seseorang untuk menikah bisa jadi berbeda dengan yang lainnya. Ada yang mengaku bahwa dorongan usia lebih mendominasinya untuk menikah. Ada juga yang merasa bahwa dia membutuhkan seseorang yang dapat mendampingi hidupnya, berbagi suka dan duka. Dan ada juga yang berpandangan bahwa tujuannya menikah adalah untuk regenerasi.



Apakah hanya itu tujuan menikah? Ada tujuan yang lebih utama hanya sekadar memiliki seseorang untuk dipanggil mama atau papa. Pertama, melaksanakan perintah Allah. Anjuran untuk menikah ini tertuang dalam surat an-Nuur [24]:

32,



"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang- orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."



Kedua, Melaksanakan perintah Rasul-Nya.

"Barang siapa yang mampu menikah, tetapi tidak menikah maka dia bukanlah termasuk golonganku." (HR Thabrani dan Baihaqi).



Ketiga, ada pernyataan bahwa tujuan menikah itu untuk 'Alwaduud wal waluud', yaitu sebagai cerminan kasih sayang dan melahirkan banyak anak.



Artinya, tujuan memelihara keturunan dan memperbanyak umat bisa tercapai melalui sebuah pernikahan.

"Menikahlah kamu dengan beranak turun, sungguh aku bangga dengan banyaknya kamu sebagai umatku di hari kiamat nanti." (HR Baihaqi).



Keempat, memelihara akhlak diri. "Pernikahan itu akan dapat lebih memelihara pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya berpuasa itu dapat jadi tameng mengalahkan hawa nafsu." (HR Bukhari Muslim).



Kelima, menumbuhkan ketenangan jiwa. Untuk tujuan yang satu ini pastinya banyak orang yang mengetahui termasuk yang lajang sekalipun. Ayat yang menerangkan tentang hal ini kerap mengisi undangan pernikahan. Memang betul bahwa pernikahan itu merupakan salah satu jawaban dari masalah kegalauan hati karena Allah menjanjikan hal itu.



"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (QS ar-Ruum [30]: 21).



Masih banyak lagi tujuan mulia lainnya, seperti mempertebal rasa kebapakan dan keibuan, memperluas dan memperkokoh persaudaraan, serta menjadi media ujian kualitas diri.



Dengan tujuan-tujuan tersebut, semoga Allah menganugerahkan kepada kita pernikahan yang berkah dan tentu saja harus kita siapkan dari sekarang dengan memilih pasangan berdasarkan agamanya, keturunan dan kemuliaannya, mengutamakan orang jauh dalam kekerabatan, dan mengutamakan perawan yang subur.



Demikan Rasulullah menjelaskan langkah-langkah menuju pernikahan berkah. Dan semoga Fulanah dan Fulan di manapun berada mendapatkan apa yang dicita-citakan, yaitu pernikahan yang berkah. Billahi fii sabilil haq

jont with me

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dikomen yah ^_^